Beberapa Catatan Kecil Tentang Sejarah Teater Kota Bogor

Oleh: Willy Kanugi

Salah satu kelemahan Boen S Oemardjati di dalam mendokumentir sejarah perkembangan teater di Indonesia yang dihimpun dalam bukunya “Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia” (Terbitan PT Gunung Agung, Tahun 1971) menurut hemat saya adalah disebabkan Boen terlalu percaya sepenuhnya pada arsip-arsip teater yang berupa tulisan-tulisan atau brosur-brosur. Sehingga kegesitan yang dihasilkan Boen di dalam mengumpulkan arsip-arsip teater yang berserakan di berbagai kota di Indonesia ini menjadi kurang nilainya jika diukur dengan cita-cita berikut nasib teater itu sendiri.

Sebagai contoh di dalam menyinggung masalah sejarah teater kota Bogor saya punya dugaan keras bahwa tanpa sebuah brosur tentang “Federasi Teater Kota Bogor 1962” yang diberikan Taufiq Ismail kepadanya, di mana Taufiq Ismail sendiri duduk sebagai ketuanya, Boen sendiri tidak banyak tahu tentang bagaimana tampang sebenarnya teater kota Bogor ini.

Sehubungan dengan inilah saya ingin mencoba memberi gambaran subyektif mungkin tentang kehidupan group-group teater kota Bogor berikut gambaran beberapa warna yang menghiasi pribadi-pribadi yang menjadi pionir penggerak teater di kota Bogor. Dalam penulisan sejarah teater membicarakan secara serius tentang tokoh-tokoh teater saya anggap penting daripada membicarakan cuma sebatas pada group-group yang merasa bangga dengan jumlah puluhan produksinya yang selalu menghiasi katalogus-katalogus pementasan mereka. Karena bagaimanapun teater kita adalah ekspresi pribadi, dalam arti maju-mundurnya sebuah teater banyak tergabung pada pribadi-pribadi yang dedikasi, pengorbanan,  dan intensitasnya yang penuh pada teater.

Apa yang ditulis Boen tentang sejarah perkembangan teater kota Bogor yang bersumber pada arsip-arsip (brosur-brosur) Federasi Teater   Kota Bogor yang kegiatannya tercatat Cuma sampai pada awal tahun 1963 tanpa menyebutkan Studi Teater Bogor pada tahun-tahun berikutnya bisa dianggap sebagai kekurangan yang cukup serius. Padahal kesempatan Boen untuk mengumpulkan arsip-arsip teater Bogor sampai pada akhir tahun 1967 masih ada. Ini terbukti bahwa sampai Oktober 1967, Boen masih mencatat kegiatan dirinya selaku juri perlombaan penulisan lakon yang diadakan BPTNI dari 15 Juli 1967 sampai dengan 15 Oktober 1967.

Menyadari, bahwa kehidupan drama Indonesia Modern mulai berkembang tahun 1950-an dan berpusat di 4 kota: jakarta, Bandung, Bogor dan Jogja, maka dalam perkembangannya semacam itu adalah wajar apabila kegiatan group-group teater pionir yang walaupun sebahagian besar lahir karena dorongan selera puber dan tidak berhasil mewariskan tradisi kehidupan teater di daerahnya, turut tercatat pula dalam sejarah dokumentasi teater Indonesia seperti apa yang dilakukan oleh Boen S. Oemardjati Sarjana Sastra UI itu.

Mengamati perkembangan teater Kota Bogor dengan apa yang disebut Federasi Teater Kota Bogor, bagi saya adalah sama dengan mengamati masa puber anak-anak remaja. Artinya, kegairahan untuk bermain-main dengan teater ini selesai Cuma sampai pada tingkat mereka mengakhiri masa bujangnya. Begitu Federasi Teater Kota Bogor lahir pada saat itu pula ia sebenarnya menerima kematiannya. Kalau ada orang bertanya apa yang dikerjakan oleh Endang Achmadi, Ahjad Hamzah, Alexander Naftali, Sujitno, dan sejumlah veteran teater itu untuk Bogor kini? Jawabnya tentu, mereka sudah buta huruf dengan perkembangan teater masa kini.

Umar MachdamDi tengah-tengah kevakuman sejak tahun 1963 itulah, Umar Machdam berhasil membuka kembali titik-titik terang di tengah-tengah kegelapan teater kota Bogor. Aktor muda lulusan ATNI inilah yang semasa tumbuhnya group-group teater seperti Teater Bogor, Teater Nasional, Teater Gamipentas, Teater Raksa Budaja, merupakan aktor freelancer yang paling berbakat yang turut mendukung hampir setiap produksi-produksinya, merasa dibebani tanggung jawab moril untuk menambah kembali jalur-jalur teater kota Bogor yang memang sudah menguat sejak tahun 1952 sampai dengan tahun 1963 itu.

Di luar Federasi Teater Kota Bogor yang memang tidak bisa berbuat apa-apa itu, Umar mencoba menghimpun beberapa orang yang punya minat serius pada teater. Tanpa di bawah panji-panji group dari tahun 1963-1964, aktor muda ini berhasil membangun kembali image teater Bogor di tengah-tengah kevakumannya. Bersama Ishak Iskandar (sekarang Teater populer HI), kamaluddin Iskandar, dan taty Hartati, Desember 1964 ia membentuk, mampu mengorganisir, meski baru secara idiel.

Sedang acara-acara Apresiasi Teater dan pusi, yang kelihatan lebih berhasil daripada diskusi-diskusi Hopla dalam arti banyaknya jumlah pengunjung, disayangkan tidak dibarengi dengan diskusi-diskusi masalah sastra dan teater. Walaupun memang, disertakan juga sambutan-sambutan tertulis dari tokoh-tokoh teater dan terakhir ceramah Kasim Achmad.

Tetapi semestinya, berbarengan dengan kegiatan ini, bisa juga diselipkan ancaman diskusi baik amsalah sastra (puisi) maupun masalah teater sehingga dengan demikian perbendaharaan pengetahuan remaja tentang dunia tersebut semakin bertambah meski baru pengetahuan  elementer.

Kita tahu bahwa kegiatan teater tak dapat dipisahkan dari sastra. Sedangkan penghayatan sastra tidak bisa tanpa pengendapan serta aktivitas jiwa. Dus tidak hanya gerak luar saja, tetapi dituntut gerak dari group “PASENDRA” (Penggemar Seni Drama). Produksi yang tercatat antara lain: Makka Al Mukaromah, Gerbang Sjam, Pagi Cerah, Rumah Tengah Angin, Bolero Hijau, dan beberapa pementasan yang tak sempat tercatat.

Melihat perkembangan teater mulai berkembang kembali di daerah-daerah seperti jakarta, Bandung, dan Jogja, maka untuk lebih memperjelas kehadiran Teater di Kota Bogor, Umar Machdam bersama-sama Eman Sulaeman pada tanggal 11 Juni 1966 mengubah PASENDRA menjadi STUDI TEATER BOGOR (STB). Dan sejak itulah sampai sekarang masyrakat Bogor Cuma mengenal satu-satunya group teater di Bogor itulah Study Teater Bogor.

Group ini nyatanya produktif, dan menurut catatan terakhir berhasil mementaskan 27 produksi, 16 kali pementasan masyarakat bogor, 3 kali dalam bentuk improvisasi, 6 kali di TVRI, dan terakhir “KEmatian Odysseus” nya Lioenl Abel di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Kalangan pengamat teater dan sastrawan, baik yang di Bogor seperti Iwan Simatupang Almarhum, Ali Audah, maupun yang di Jakarta seperti Teguh Karya dan Asrul Sani, sangat menaruh perhatian besar pada group ini. Sebab dari group yang cuma hidup sendirian di kota Bogor ini, terlihat kesungguhan dan sikapnya yang lebih dasar lagi lebih dalam memilih teater sebagai karir mereka. Umar sendiri tatkala saya tanya sehubungan dengan perkembangan teater, kalaupun Bogor punya andil dalam turut membina perkembangan teater dengan Federasi Teaternya,  itu Cuma terbatas pada andil formil saja. Sedangkan saya menganggap Federasi Teater itu bukanlah teater. Teater bagi saya adalah kerja, bukan formil-formilan, bukan cap-capan, bukan federasi-federasian. Kalau benar Federasi teater itu ada di kota Bogor, tentu mereka kini masih bekerja bersama-sama saya, kata Umar.

Seandainya buku Boen S. Oemardjati terbatas pada pembicaraan sekitar soal-soal penulisan lakon dalam sastra Indonesia saja, dan tidak sampai ikut pada biacara tentang sejarah pementasannya, kemungkinan besar saya tidak akan menulis catatan kecil ini,. Saya pikir, setiap usaha untuk menghimpun dokumentasi sejarah teater, merupakan usaha yang patut dipuji. Terlebih usaha semacam ini belum kita mulai sebagai tradisi dalam turut memperkembangkan dunia teater.  Tentunya untuk menulis sejarah perkembangan teater tidaklah cukup cuma dengan arsip-arsip tertulis saja. Perlu ada penyelidikan yang intens dan seksama. Kalau perlu adakan wawancara langsung dengan tokoh-tokoh pendukungnya. Saya rasa penulis dokumentasi teater tidak sama dengan seorang pencatat sensus penduduk. (***)

Sumber:  Suara Karya, 19 Desember 1971.

B-P-711219-Suara Karya-Teater di Bogor

Iklan