Umar Machdam, dilahirkan di Bogor kurang lebih 30 tahun lalu, pernah untuk sementara selama beberapa tahun tinggal di kota Surabaya, tapi tidak kerasan, lalu pindah ke Jakarta dan sampai saat ini berdomisili di Jatinegara, Jakarta. Memulai kariernya di bidang teater sejak sekitar tahun 1960. Menulis banyak skenario drama dan puisi, tapi tak pernah diterbitkan. Lebih dari tiga puluh naskah drama pentas dan tv hasil produksinya. Selama beberapa waktu pernah belajar pada ATNI. Belakangan ini cenderung menggarap drama bertema Islam.

Sebenarnya Umar tidak pernah mengalami kegagalan di bidang teater, meskipun ia tidak punya kontinuitas penggarapan. Sebagai sutradara ia memiliki kepekaan yang tinggi dan kaya dengan imajinasi. Ia berhasil menembus dinding kriteria Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang ketat dan dapat tampil beberapa kali di Teater Arena Taman Ismail Marzuki.

Disamping melibatkan diri secara langsung di bidang teater, Umar juga berkecimpung di dunia perfilman dan tivi, baik sebagai pemain maupun astrada. Beberapa film yang telah beredar hasil penggarapannya bersama dengan sutradara-sutradara Turino Djunaedi, Wahab Abdi, dll.

Umar punya  pelaku drama yang lumayan baik dan kuat, tidak kalah misalnya dengan pelaku-pelaku Grup Teater Kecil atau Teater Mandiri dan Teater Populernya Teguh Karya. Anak buahnya dihimpun dalam Group Studi Teater Bogor yang diasuhnya, antara lain Mayawati, Desy Edy Karamah, I’in, Bambang Setiawan, Tasdik, Sasas, dll. Dan ia berhasil pula membina pelaku-pelakunya hingga menjadi aktor-aktor drama yang cukup dapat diandalkan permainannya. Hal itu dibuktikan oleh beberapa kali pagelaran drama-nya di TIM atau di Balai Budaya Mitra Surabaya.

Dalam melatih para pelakunya Umar dikenal sebagai sutradara yang keras dan teguh memegang disiplin. Dalam hal ini, Umar tidak kenal kompromi. Minimal enam bulan sebelum dilangsungkan suatu pementasan drama, ia telah memulai latihan secara sistematis dan dengan jadwal latihan yang tertib. Rata-rata anak buahnya tidak bisa main santai atau seenaknya dalam masa latihan.

Tentang “cacat” tadi terutama bersumber pada “keangkuhan”nya atau “pride”nya sebagai seniman. Ia cepat merasa tersinggung dan secara kontan bikin reaksi yang kadang-kadang melebihi batas.

Kalau saja ia bisa menghalau hambatan-hambatan yang muncul dari dirinya itu, dan memang ia sendiri yang mungkin dapat melakukannya, keadaan Umar pasti akan berubah, reputasinya akan cepat menanjak dan ia akan sepopuler seperti sutradara-sutradara drama dan film yang terkenal dan masa depannya akan sangat cemerlang. Sebagai seniman, dandanan Umar biasa-biasa saja, malahan sama sekali “tidak nyeni”, apalagi nyentrik seperti banyak kita saksikan pada seniman-seniman lain.

Sebuah naskah yang bagaimanapun rumitnya berhasil digarapnya secara baik. Umpamanya naskah drama “Salman el Farisi” dan “Rabiah el Adawiyah” berhasil dipentaskan dengan sangat bagus dan mencekam sebagai drama-drama kontemporer. Umar Machdam adalah sutradara khas untuk drama-drama kolosal. Seluruh persiapan pementasan ditanganinya sendiri dari pemilihan kostum, make-up, setting dan pengaturan dekorasi sampai pada sound dan musik. Ia hanya dibantu oleh astradanya, Mayawati. (4)

(Pos Film, 26 Pebruari 1978)

Iklan