Oleh:  Jusuf S

Umar Machdam
Umar Machdam (DOk: Pelita)

Umar Machdam, jebolan dari ATNI, dan telah terjun ke dunia film sejak tahun 1964 sebagai pemain dalam film “Anak-anak Revolusi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail, kemudian “Kasih diambang Maut”, “Hancurnya Petualang“, “Jakarta, Hongkong dan Macao”. Dan kemudian jadi Astrada (Asisten Sutradara)nya Turino Djunaedi, dalam film “Selamat Tinggal Kekasih”, bersama Nyak Abbas Acub, “Catatan Seorang Gadis”, “Krisis”. Dan terakhir Astradanya Edward Pesta Sirait dalam film “Duo Kribo”. Setelah itu, ia tidak aktif lagi karena manjadi guru di Pesantren Darul Falah Bogor dan Dosen di IPB dalam pelajaran kesenian dan Kebudayaan, selama lima tahun.

Tahun ’82 kembali lagi ke film dan ikut main dalam film “Pak Sakerah” yang disutradarai Bazar Kadaryono dan ia pegang peran sebagai pembantu Pak Sakerah. Sekarang tak mengajar lagi dan ingin tetap menjadi pemain film.

Kepada penulis, ia mengemukakan ingin mengembangkan kesenian sebagai alat dakwah. Karena menurutnya kesenian sebagai alat dakwah adalah tepat, sebab kesenian itu melahirkan keindahan dan keluhuran budi dan jiwa manusia dan masalah itu hanya ada dalam agama.

Kerjasama dengan Ulama

Berbicara masalah karya film yang berthemakan dakwah dalam film-film nasional, menurutnya pada umumnya belum memuaskan, masih sangat jauh. Hal ini disebabkan pada diri si seniman (sutradara) kurang menyelami apa makna dakwah yang sebenarnya. Yang terlihat dalam hasil karya mereka, hanyalah ujud fisiknya, kulitnya saja. Hanya memperlihatkan apa yang dikerjakan orang Islam. Orang yang sedang bersembahyang, sedang adzan, sedang mengaji dan lain-lain. Yang kita butuhkan dalam film berthemakan dakwah, bukan itu. Melainkan penampilan manusia muslim secara utuh. Bagaimana manusia muslim dalam melakukan hubungan sesame manusia, dalam rumahtangganya, dalam tingkah laku sehari-hari, dan tidak perlu harus memakai ayat-ayat suci Al-Qur’an atau hadist.

Dengan langkanya film-film berthemakan dakwah, munculnya film “Al-Kautsar” yang disutradarai Khairul Umam, cukup menggembirakan. Namun sayang film tersebut kurang komunikatif dengan hati orang-orang yang menjadi sasaran dari film tersebut, sehingga kurang berhasil dalam segi pemasaran. Ada semacam ganjalan yaitu sebuah adegan yang kurang mengena, kurang disukai segolongan masyarakat yaitu sebuah upaya pertolongan untuk menyelamatkan seorang wanita dari kematian akibat tenggelam dan terseret air dengan perbuatan mencium mulut wanita, oleh tokoh pria dengan maksud membuat pernafasan. Mengapa harus ditampilkan adegan semacam itu yang menyinggung perasaan segolongan yang lain. Tanpa menampilkan adegan itu, sebenarnya tidak mengurangi arti “Al-Kautsar” sebagai film dakwah. Maksudnya itu baik, namun masyarakat kan belum bisa menerima perbuatan semacam itu. Kita harus mengakui kenyataan itu.

Dan selanjutnya ia mengatakan film berthema dakwah ini, hanya akan lahir dari seorang seniman (sutradara) yang berjiwa dai, sebab dengan jiwa dai yang dimilikinya itu, film hasil karyanya itu akan disaring oleh nuraninya terlebih dahulu. Dengan jiwa dai yang dimilikinya itu, dalam membuat film pasti akan berhati-hati sekali.

Kemudian ia menilai, berdasarkan pengamatannya itu, selama ini jalinan antara ulama dengan seniman kurang sekali. Ulama mencurigai seniman, sedang seniman sendiri tidak mau datang kepada Ulama. Padahal jalinan antara ulama dan seniman itu perlu sekali dalam rangka melahirkan film-film berthemakan dakwah ini. Sebab Ulama lebih dekat dengan masyarakat, sehingga Ulama itu lebih tahu masyarakatnya. Jika seniman mau datang kepada Ulama, lalu menjelaskan maksud dan tujuannya itu, kan sedikit demi sedikit bisa menghilangkan kecurigaan para Ulama terhadap para seniman itu. Dan seniman haruslah mau mendengar kata-kata Ulama.

Beberapa kali saya pergi ke rumah Khairul Umam dan berdiskusi tentang film dakwah itu. Dan lewat diskusi itu, tahulah saya ada kesungguhan Khairul Umam untuk membuat film-film berthemakan dakwah. Belakangan ini, Khairul Umam telah menggarap film “Sehelai Rambut Dibelah Tujuh”.

Masih Jauh

Selain berbicara film berthemakan dakwah, Umar pun menyinggung masalah perkembangan film nasional dewasa ini. Menurutnya film-film nasional dewasa ini masih jauh untuk bisa berbicara dalam dunia internasional. Karena kita masih banyak memiliki kekurangan-kekurangan. Dan kekurangan-kekurangan itu harus kita tanggulangi dengan bersungguh-sungguh. Seperti pemain, dikatakannya kita memiliki sedikit sekali pemain yang baik dan pemain-pemain terkenal dewasa ini, terutama yang muda-muda kurang mau berstudy, belajar   acting lewat buku-buku, padahal buku-buku itu sangat penting karena dari buku-buku itu kita bisa menimba banyak ilmu pengetahuan. Kalau mereka tetap berpuas diri dengan pengetahuan acting yang dimiliki sekarang, bagaimana dunia film akan maju di masa yang akan datang?

Sedang sutradara sendiri kurang selektif dalam memilih para pendukung dari film yang dibuatkanya. Selain itu, para sutradara kurang selektif dalam memilih Astradanya. Padahal Astrada itu nantinya kan menjadi sutradara.

Untuk memajukan film nasional, orang-orang film juga harus bekerja sama dengan Departemen-departemen, seperti Departemen Agama, Departeman P & K, Dalam Negeri, dan lain-lain. Kita orang film haruslah bisa memberi rangsangan kepada Departemen-departemen untuk ikut berpartisipasi.

Misalnya dengan Departemen P & K. Orang-orang film mencetak buku tentang sejarah perkembangan film, dan uraian betapa pentingnya film dalam ikut andil dalam pembangunan nusa dan bangsa, kemudian buku itu diberikan kepada P & K diminta bantuannya untuk menyebarkan kepada para pelajar, sehingga para pelajar itu nantinya akan mencintai film nasional kita.

Dan PPFI hendaknya menekankan kepada anggota-anggotanya dengan memberikan pengertian film yang baik macam apa dan memberikan pengertian dan pengetahuan tentang Indonesia, sehingga para produser itu mau mengerti apa yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini.

Selain menjadi pemain dan Astrada, ia pun berpuluh kali main sandiwara Tivi dansebagai pengatur laku seperti dalam “Lorong Hitam, “Calon Menantu”, “Om Dokter”, “Benua Maut”, “Anjing Tercinta” kemudian juga main drama dan sebagai sutradara “Umar Bin Khattab” mentas di Convention Hall, “Salman Al Farisi”, “Rabiah el Adawiyah”, “Monsserat”, “Antigon” di TIM dan berpuluh kali di tempat-tempat lain (Jusuf S)

(Sumber: Pelita, Sabtu, 26 Maret 1983)

Iklan